Senin, 07 Desember 2009

FISIOLOGI II DAN V

Hemolisa sempurna adalah peristiwa pecahnya trombosit dalam sel darah merah yang mengakibatkan tidak adanya lagi hemoglobin dalam darah hemolisa sempurna adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas ke dalam medium sekelilingnya (plasma). Pada lingkungan hipotonis (akuades), sel menyerap air, membengkak dan pecah disebut hemolisis hemolisa merupakan penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit

Hemolisa

Hemolisa adalah suatu keadaan anemi yang terjadi oleh karena meningkatnya penghancuran dari sel eritrosit yang diikuti dengan ketidakmampuan dari sumsum tulang dalam memproduksi sel eritrosit untuk mengatasi kebutuhan tubuh terhadap berkurangnya sel eritrosit untuk mengatasi kebutuhan tubuh terhadap berkurangnya sel eritrosit tersebut, penghancuran sel eritrosit yang berlebihan akan menyebabkan terjadinya hiperplasi sumsum tulang sehingga produksi sel eritrosit akan meningkat dari normal., hal ini terjadi bila umur eritrosit berkurang dari 120 hari menjadi 15-20 hari tanpa diikuti dengan anemi, namun bila sumsum tulang tidak mampu mengatasi keadaan tersebut maka akan terjadi anemi Krenasi adalah peristiwa mengkerutnya sel darah karena cairan dalam sel darah keluar menuju cairan eksternal yang konsentrasinya lebih tinggi. Pada lingkungan hipertonis (garam > 1%), sel akan mengkerut disebut krenasi). krenasi adalah bila eritrosit berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput. krenasi adalah kontraksi atau pembentukan nokta tidak normal di sekitar pinggir sel setelah dimasukkan ke dalam larutan hipertonik, karena kehilangan air melalui osmosis. Secara etimologi, krenasi berasal dari bahasa Latin crenatus.

Keterangan :

R : Hipotonis

P : Hemolisa

S : Hipertonis

Q : Krenasi

Larutan Hipotonis adalah larutan yang selulernya mempunyai tekanan lebih kecil terhadap sel. bila cairan disekeliling sel lebih rendah tekanan osmotiknya dan air cenderung melewati membran, masuk ke dalam sel. Air yang masuk sel menyebabkan pembengkakan dan kemudian pecah, keadaan ini disebut sel darah merah mengalami hemolisa. Larutan Hipotonis adalah larutan yang memiliki osmolalitasnya lebih rendah dari plasma, larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari yang lain disebut larutan Hipotonis.larutan hipertonis adalah larutan yang memiliki osmolalitasnya lebih besar dari plasma. Larutan Hipertonis terjadi apabila sel darah merah terdapat di dalam plasma hipertonis (lebih pekat daripada sitoplasma sel) maka akan melepaskan air ke dalam plasma dan menjadi berkerut. Sel darah merah yang berkerut disebut krenasi. Dalam hubungannya dengan sel-sel mamalia, larutan sodium khlorid lebih dari 0,85 % dikatakan hipotonis; larutan sodium khlorid lebih dari 0,85 % bersifat isotonik larutan hipertonis terjadi jika larutan yang selulernya mempunyai tekanan lebih besar terhadap sel. Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dari yang lain disebut Larutan Hipertonis Larutan Isotonik yaitu bila kadar larutan pada kedua sisi membran sama, seperti sel dalam darah, maka cairan di sekeliling sel tersebut dikatakan isotonik (isosmotik). Artinya, tekanan osmotik pada kedua sisi membran sama. Larutan sodium khlorid 0,85 % merupakan larutan isotonik dengan sel darah merah mamalia dan berdasarkan hal itu disebut larutan garam fisiologiklarutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut Isotonis. Larutan garam fisiologik dapat digunakan untuk menjaga kesegaran jaringan, seperti pada luka terbuka, sehingga tidak terjadi kerusakan sel-sel). Larutan isotonik (isotonus) adalah larutan yang memiliki osmolalitas yang sama dengan plasma jika sel darah merah ditempatkan dalam cairan yang mempunyai tekanan osmotik yang sama maka tidak akan terjadi kelebihan air yang masuk dan keluar dan sel tidak akan membengkak terhadap cairan intraseluler sel dan larutan tersebut disebut isotonik (isosmotik).

Larutan Hypertonic, Isotonic, dan Hypotonic

Jika di dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel, jika dalam suatu bejana yang dipisahkan oleh selaput semipermiabel ditempatkan dua Iarutan glukosa yang terdiri atas air sebagai pelarut dan glukosa sebagai zat terlarut dengan konsentrasi yang berbeda dan dipisahkan oleh selaput selektif permeabel, maka air dari larutan yang berkonsentrasi rendah akan bergerak atau berpindah menuju larutan glukosa yang konsentrainya tinggi melalui selaput permeabel. jadi, pergerakan air berlangsung dari larutan yang konsentrasi airnya tinggi menuju kelarutan yang konsentrasi airnya rendah melalui selaput selektif permiabel. Larutan vang konsentrasi zat terlarutnya lebih tinggi dibandingkan dengan larutan di dalam sel dikatakan .sebagai larutan hipertonis. sedangkan larutan yang konsentrasinya sama dengan larutan di dalam sel disebut larutan isotonis. Jika larutan yang terdapat di luar sel, konsentrasi zat terlarutnya lebih rendah daripada di dalam sel dikatakan sebagai larutan hipotonis

Sel Hewan dan Sel Tumbuhan dalam Larutan Isotonis,

Larutan Hipotonis, dan Larutan Hipertonis

Pada larutan isotonis, sel tumbuhan dan sel darah merah akan tetap normal bentuknya. Pada larutan hipotonis, sel tumbuhan akan mengembang dari ukuran normalnya dan mengalami peningkatan tekanan turgor sehingga sel menjadi keras. Berbeda dengan sel tumbuhan, jika sel hewan/sel darah merah dimasukkan dalam larutan hipotonis, sel darah merah akan mengembang dan kemudian pecah /hemolisis, hal ini karena sel hewan tidak memiliki dinding sel. Pada larutan hipertonis sel tumbuhan akan kehilangan tekanan turgor dan mengalami plasmolisis (lepasnya membran sel dari dinding sel), sedangkan sel hewan/sel darah merah dalam larutan hipertonis menyebabkan sel hewan/sel darah merah mengalami krenasi sehingga sel menjadi keriput (krenasi) karena kehilangan air

Faktor-faktor yang mempengaruhi hemolisa adalah faktor kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis (karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya hemolisis dapat disebabkan oleh malaria dan obat anti malaria. Hemolisis dapat juga disebabkan karena meningkatnya fragilitas osmotik dari eritrosit yang terinfeksi dan tidak terinfeksi, sehingga umur eritrosit menurun.

Ada dua faktor utama dan mendasar yang memegang peranan penting untuk terjadinya hemolisa yaitu:

  1. Faktor Instrinsik (Intra Korpuskuler).

Biasanya merupakan kelainan bawaan, diantaranya yaitu : a) Kelainan membrane, b) Kelainan molekul hemoglobin, c) Kelainan salah satu enzym yang berperan dalam metabolisme sel eritrosit. Sebagai contoh: bila darah yang sesuai ditransfusikan pada pasien dengan kelainan intra korpuskuler maka sel eritrosi tersebut akan hidup secara normal, sebaliknya bila sel eritrosit dengan kelainan dengan kelainan intra korpuskuler tersebut ditransfusikan pada orang normal, maka sekeritrosit tersebut akan mudah hancur atau lisis.

  1. Kelainan Faktor Ekstrinsik (Ekstra Korpuskuler)

Biasanya merupakan kelainan yang didapat (aquaired) dan selalu disebabkan oleh faktor immune dan non immune, bila eritrosit normal di transfusikan pada pasien ini, maka penghancuran sel eritrosit tersebut menjadi lebih cepat ,sebaliknya bila eritrosit pasien dengan kelainan ekstra korpuskuler di transfusikan pada orang normal maka sel eritrosit akan secara normal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi krenasi adalah

Faktor lingkungan hipertonik (sel memiliki larutan dengan konsentrasi yang lebih rendah dibandingkan larutan di sekitar luar sel),

1. osmosis (difusi air) menyebabkan pergerakan air keluar dari sel, menyebabkan sitoplasma berkurang volumenya. Sebagai akibatnya, sel mengecil.

Gravitas jenis suatu zat adalah indeks atau rasio berat zat tersebut dibandingkan dengan berat air yang volumenya sama dengan zat yang disebut tadi. Suatu zat yang beratnya kurang dari berat air yang volumenya sama, akan mempunyai gravitas jenis kurang dari 1,00; apabila beratnya lebih, maka gravitas jenisnya lebih besar dari 1,00. pengukuran gravitas jenis ini biasanya dilakukan dengan hydrometer. Hydrometer juga digunakan untuk mengukur gravitas jenis cairanDarah memiliki gravitas jenis (berat jenis) yang sedikit lebih tinggi dibandingkan air terutama disebabkan oleh adanya sel-sel darah; sel darah merah lebih berat dari sel darah putih, dan kedua jenis sel itu lebih berat dibanding plasma. Gravitas jenis (berat jenis) darah bervariasi diantara spesies hewan seperti ayam berkisar antara 1,042 - 1,045; domba dan kambing 1,042; sapi 1,043; anjing dan manusia 1,059 sedangkan kuda dan babi 1,060

gravitas jenis (berat jenis) pada manusia bervariasi dari 1,054 – 1,060, sedangkan berat jenis plasmanya bervariasi dari 1,024 – 1,028. Pada ternak gravitas jenis (berat jenis) hampir sama dengan manusia yang sangat bervariasi, seperti pada kuda 1,060; sapi 1,043; domba 1,042 dan babi 1,060.

Laktodensimeter

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian Golongan darah adalah jumlah dari semua antigen serologikal, faktor golongan darah yang, melekat pada membran sel darah merah. Faktor golongan darah diturunkan secara bebas satu sama lain. Antigen (antikoagulan) adalah senyawa kimia protein yang biasa disuntikkan ke suatu individu yang kekurangan antigen tersebut akan menyebabkan pembentukan senyawa khusus yang menetralisir antigen. Penggolongan darah A, B, O didasarkan pada ada tidaknya antibodi dalam tubuh kita masing-masing

Menurut sistem ABO, ada empat golongan darah dan pembagian ini berdasarkan fakta yaitu:

  1. Serum darah manusia mengandung aglutinin, semacam antibodi yaitu substansi yang dapat menggumpalkan eritrosit orang lain dengan golongan berbeda, bila keduanya dicampur.
  2. Eritrosit memiliki substansi aglutinogen, semacam antigen pada membran slnya yang sanggup merangsang pembekuan aglutinin.

Ringkasan Sistem ABO

Golongan

Darah

Antigen

Sel Merah

Antibodi

dalam Serum

Tidak mendonorkan pada golongan

Dapat Menerima

dari Golongan

AB

A dan B

Tidak ada

AB

Semua kelompok

A

A

Anti-B

A dan AB

A dan O

B

B

Anti-A

B dan AB

B dan O

O

Tidak ada

Anti-A & Anti-B

Semua kelompok

O

Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya, sebagai berikut (Anonim, 2008a) :

v Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau O-negatif.

v Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif

v Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal. Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif.

v Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.

Golongan darah ABO didasarkan pada dua aglutinogen, yang disimbolkan dengan huruf A dan B. Seseorang yang eritrositnya membuat aglutinogen a saja, dimasukkan sebagai golongan darah A. Yang eritrositnya hanya membuat aglutinogen B, dimasukkan dalam golongan darah B. Seseorang yang eritrositnya membuat aglutinogen A dan B adalah golongan darah AB. Individu yang eritrositnya tidak membuat aglutinogen adalah golongan darah O. Plasma darah orang bergolongan A, B, dan O berisi antibodi tertentu yang disebut aglutinin. Antibodi a (anti A), yang mengikat aglutinogen A, dan antibodi b (anti B) yang mengikat aglutinogen B. Golongan darah lebih ditentukan oleh faktor genetik oleh karena itu alasan satu manfaat tes golongan darah adalah untuk menentukan hubungan kekeluargaan. Selain itu, juga digunakan untuk kepentingan transfusi darah Empat golongan darah O-A-B yang utama. Dalam transfusi darah dari satu orang ke orang lain, darah donor dan darah resipien dalam keadaan normal diklasifikasikan dalam empat golongan darah O-A-B utama, seperti pada tabel. 5, tergantung pada ada atau tidaknya kedua aglutinogen. Bila tidak terdapat aglutinogen A atau B, darah digolongkan O. bila hanya terdapat aglutinogen tipe A, darah digolongkan A, bila hanya terdapat aglutinogen tipe B, darah digolongkan B. Sedangkan bila terdapat kedua aglutinogen A dan B, darah digolongkan AB

Golongan Darah dengan Genotipe, Unsur Aglutinogen dan Aglutininnya

Genotipe

Golongan

Aglutinogen

Aglutinin

OO

O

-

Anti-A dan Anti-B

OA atau AA

A

A

Anti-B

OB atau BB

B

B

Anti-A

AB

AB

A dan B

-

Prevalensi berbagai golongan darah diantara bangsa kulit putih Kira-kira sebagai berikut

Tipe Persen

O 47

A 41

B 9

AB 3

Golongan darah ABO terdiri dari Golongan darah O, A, B, dan AB. Dan penggolongan berdasarkan faktor Rh terbagi menjadi Rh+ dan Rh-. Protein dalam sel darah disebut agglutinogen, sementara protein dalam plasma disebut agglutinin . Agglutinogen memiliki dua jenis yaitu A dan B, begitu juga agglutinin memiliki jenis a dan b.

1. Golongan darah A jika mengandung agglutinogen A di sel-selnya dan agglutinin b di plasma-nya

2. Golongan darah B jika mengandung agglutinogen B di sel-selnya dan agglutinin a di plasma-nya

3. Golongan darah AB jika mengandung agglutinogen A dan B di sel-selnya dan tidak memiliki agglutinin di plasma-nya

4. Golongan darah O jika tidak memiliki aggllutinogen di sel-selnya dan memiliki agglutinin a dan b di plasmanya

Pewarisan Golongan Darah

Golongan darah dinamai menurut keberadaan zat yang disebut aglutinogen, yang terdapat didalam sel darah merah. Ada dua jenis aglutinogen, yaitu A dan B. Apabila didapat aglutinogen A, golongan darah individu tersebut adalah A, bila ditemukan aglutinogen B, maka golongan darah individu tersebut adalah B. Apabila kedua aglutinogen ditemukan , individu memiliki golongan darah AB dan golongan O tidak mengandung aglutinogen didalam sel darah merahnya sehingga tidak akan mengalami aglutinasi oleh aglutinin plasma manapun. Dengan demikian plasma dari golongan A mengandung aglutinin anti-B, plasma golongan B mengandung aglutinin anti-A, plasma golongan AB tidak mengandung aglutinin sehingga tidak menyebabkan sel darah merah manapun mengalami aglutinasi, sedangkan plasma golongan O mengandung kedua jenis aglutinin tersebut Golongan Darah

Golongan

Darah

Aglutinogen pada

Sel Darah Merah

Aglutinin dalam

Plasma

A

Antigen A

Anti – A

B

Antigen B

Anti – B

AB

Antigen A & B

Tidak keduanya

O

Tidak ada antigen

Tidak ada Anti A & Anti B

Plasma darah mengandung suatu protein yang disebut aglutinin. Plasma darah golongan A mengandung aglutinin β, plasma darah golongan B mengandung aglutinin α. Kedua macam aglutinin α dan β terdapat pada plasma darah golongan O, sedangkan plasma darah golongan AB tidak mengandung aglutinin sama sekali. Apabila sel darah merah golongan A dicampur dengan plasma darah golongan B yang mengandung aglutinin α, maka akan terjadi proses aglutinasi dan hemolisis. Demikian pula halnya, apabila sel darah golongan B ditempatkan pada plasma darah golongan A. Sel darah golongan O bila ditempatkan pada plasmadarah golongan darah A, B atau AB, tidak memberikan reaksi sebabsel darah golongan tidak mengandung aglutinogen (Poedjiadi, 2006).

Golongan darah dikelompokkan menjadi empat yaitu; A, B, O, dan AB. Penetapan penggolongan darah didasarkan pada ada tidaknya antigen sel darah merah A dan B. Individu-individu dengan golongan darah A mempunyai antigen A yang terdapat pada sel darah merah, individu dengan golongan darah B mempunyai antigen B, dan individu dengan golongan darah O tidak mempunyai kedua antigen tersebut

Golongan Darah ABO

tabel reaksi serum.jpg

Golongan darah berguna dalam melakukan transfusi darah. Yaitu proses tranfer darah ke tubuh orang yang membutuhkan, misal karena kekurangan darah oleh sebab kecelakaan, penyakit, atau sebab lain. Darah yang di berikan kepada orang yang menerima harus ”cocok”. Jika tidak akan terjadi masalah yang fatal, bahkan kematian. Hal ini membuat penggolongan darah dijadikan sebagai identifikasi dilihat dari aspek keturunan golongan darah maupun dalam pemuliabiakan ternak

Golongan Darah

Untuk lebih jelasnya dapat dilihat kecocokan golongan darah, pewarisan darah dan kecocokan plasma pada tabel berikut ini:

Pewarisan Golongan Darah kepada Anak

Ibu/Ayah

O

A

B

AB

O

O

O, A

O, B

A, B

A

O, A

O, A

O, A, B, AB

A, B, AB

B

O, B

O,A,B,AB

O,B

A, B, AB

AB

A, B

A, B, AB

A, B, AB

A, B, AB

Kecocokan Plasma

Resipien

Donor harus

AB

AB manapun

A

A atau AB manapun

B

B atau AB manapun

O

O, A, B atau AB manapun

Tabel 9. Kecocokan Golongan Darah

Gol Darah Resipien

Donor harus

AB+

Golongan darah mana pun

AB-

O-

A-

B-

AB-

A+

O-

O+

A-

A+

A-

O-

A+

B+

O-

O+

B-

B+

B-

O-

B-

O+

O-

O+

O-

O-

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar